News
Transformasi Paradigma Menghadapi Ancaman Siber Era Society

Transformasi Paradigma Menghadapi Ancaman Siber Era Society

Transformasi Paradigma Pemanfaatan internet dalam kehidupan sehari-hari telah menjadi bagian integral dari berbagai aspek, mulai dari media sosial, aplikasi chatting, pencarian informasi, belanja online, hingga layanan perbankan digital. Namun, dengan pertumbuhan pesat ini, muncul pula ancaman serangan siber yang semakin mengkhawatirkan. Pada tahun 2022, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat hampir satu miliar serangan siber di Indonesia, memberikan peluang bagi pelaku untuk mengambil kendali penuh atas sistem pengguna.

Ancaman serangan siber tidak hanya meningkat dalam jumlah, tetapi juga melibatkan metode yang semakin bervariasi. Prof. Benfano Soewito, dalam orasinya yang berjudul “Shifting Mindset: Paradigma Baru untuk Menghadapi Serangan Siber di Era Society 5.0,” mengemukakan pandangannya mengenai perlunya perubahan paradigma dalam menghadapi ancaman ini.

Shift Mindset: Menyiapkan Diri Menghadapi Serangan Siber Transformasi Paradigma Transformasi Paradigma

Prof. Benfano Soewito menyoroti fokus pencegahan serangan siber yang sebagian besar hanya terpusat pada satu pilar keamanan informasi. Padahal, sinergi tiga pilar keamanan informasi, yakni manusia, teknologi, dan proses, dibutuhkan untuk mengurangi prevalensi kejahatan siber.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan mencakup:

  1. Persiapan Menangani Serangan Siber: Selain pencegahan, perlu adanya rencana untuk mengatasi dampak serangan siber jika terjadi.
  2. Pencegahan yang Komprehensif: Pencegahan kejahatan siber tidak bisa hanya berfokus pada satu area. Perlu dilakukan review dan perbaikan infrastruktur IT dan aplikasi secara menyeluruh untuk menutup celah potensial bagi serangan siber.
  3. Pelibatan Sumber Daya Manusia: SDM yang terlatih dapat mengenali ancaman serangan siber dengan baik. Oleh karena itu, pelatihan secara berkala diperlukan untuk memastikan bahwa stakeholder dan pengguna dapat mengidentifikasi potensi ancaman siber.
  4. Peran Pemerintah: Pemerintah sebagai regulator perlu membuat kebijakan yang jelas terkait pengembangan aplikasi. Hal ini untuk memastikan bahwa fitur-fitur dalam aplikasi tidak menciptakan celah bagi pelaku serangan siber.

Transformasi Paradigma Menghadapi Ancaman Siber Era Society

Prof. Benfano Soewito menekankan perlunya perubahan paradigma untuk mengatasi serangan siber yang semakin kompleks. Perubahan ini mencakup peningkatan keterlibatan manusia dan proses dalam memastikan keamanan siber. Dalam Basic Framework Application Security Plan, melibatkan manusia dan proses terlihat pada tahap kebijakan (policy) dan mitigasi.

Berikut adalah tahapan-tahapan dalam Basic Framework Application Security Plan:

  1. Kebijakan (Policy): Pembuatan kebijakan sebagai acuan dalam pembuatan aplikasi. Dengan adanya kebijakan, tumpang tindih dalam manfaat aplikasi dapat dihindari, mengurangi jumlah aplikasi, dan memudahkan pemeliharaan.
  2. Desain (Design): Pengembang perlu merancang aplikasi dengan memperhatikan keamanan secara mendetail, termasuk validasi input, penanganan kesalahan, otentikasi, dan tingkat akses pengguna.
  3. Pengembangan (Developing): Tahap pengembangan aplikasi sesuai dengan kebijakan dan desain yang telah disusun.
  4. Evaluasi/Pengujian (Evaluation/Testing): Penetration testing diperlukan untuk mengevaluasi apakah sistem keamanan yang diterapkan di aplikasi sudah cukup efektif melawan serangan siber.
  5. Mitigasi: Tahapan terakhir yang melibatkan perencanaan pelatihan untuk semua stakeholder dan pengguna aplikasi. Tujuannya adalah memastikan pemahaman yang memadai tentang serangan siber agar dapat mencegahnya.

Kejahatan siber terus berkembang setiap tahun. Untuk mengatasi hal ini, tindakan pencegahan yang hanya berfokus pada teknologi tidaklah cukup. Menurut Prof. Benfano Soewito, diperlukan perubahan paradigma dengan meningkatkan keterlibatan manusia dan proses agar kejahatan siber dapat dicegah dan diantisipasi dengan lebih baik.